Terungkap, Spionase dalam Sepak Bola!



KABAR mengejutkan ini datang dari Polandia. Majalah Newsweek di negeri ini merilis sebuah berita tentang hidup rahasia Jan Tomaszewski yang sebelumnya tersimpan rapat-rapat.

Sebentar. Sebelum jauh bercerita, siapakah Tomaszewski ini? Mari menengok kembali pada peristiwa yang terjadi pada 13 Oktober 1973, di Wembley. Saat itu, Inggris tengah berjuang untuk lolos ke Piala Dunia 1974 di Jerman Barat.


Bergabung dengan Wales dan Polandia, Inggris berada di pinggir jurang. Mereka baru punya 3 poin dari sekali menang dan dua kali draw. Waktu itu penghitungan poin, menang dihitung 2 poin bukan tiga seperti sekarang. Sedangkan Polandia, memiliki 4 poin. Kalau mau lolos ke Jerman, tak ada pilihan Inggris harus menang.

Namun yang terjadi, Inggris tak pernah bisa menembus gawang Jan Tomaszewski yang perkasa. Berkali-kali, kiper yang dijuluki si Badut ini melakukan penyelamatan gemilang. Gawangnya hanya bobol oleh tendangan penalti.

Tapi skor, berakhir 1-1. Poin yang mereka miliki kalah satu poin dari Polandia.  Inggris untuk pertama kalinya gagal ke Piala Dunia. Inggris berduka. Hampir mirip saat mereka gagal ke Piala Eropa 2008.

***

KEMBALI ke soal rahasia Jan Tomaszewski. Newsweek Polandia menurunkan laporan, yang didapatkan dari dokumen dengan kualifikasi yang sangat rahasia, dengan catatan pada 28 Juli 1986.

Isinya: bekas penjaga gawang tim nasional Polandia ini tercantum sebagai mata-mata yang bekerja untuk polisi rahasia keamanan Polandia yang ketika itu dikuasai oleh pihak komunis.

Jan Tomaszewski, dalam catatan itu, masuk dalam anggota dengan kategori konsultan. Artinya? Masih dari catatan dokumen itu, dengan lisensi yang dimilikinya itu dia memantau teman-temannya sesama pemain sepak bola  dan juga pemain dari negeri lainnya, saat dia pergi ke luar negeri saat membela Polandia.

Di masa perang dingin, saat dunia terbelah menjadi dua blok besar yakni Blok Timur dengan rombongan negara-negara komunis melawan Blok Barat yang dikomandani oleh Amerika Serikat. Namanya juga perang dingin. Perang yang ada berkutat di persoalan ideologi.

Sepak bola sudah lama dibekap ideologi. Pada Piala Dunia 1934, diktator Italia Musollini menjadikan sepak bola sebagai alat untuk mempropaganda kebesaran negaranya. Berlanjut kemudian giliran Adolf Hitler yang meneruskannya.

Di Uni Sovyet, sepak bola yang semula dianggap sebagai permainan individualistis dianggap tidak sesuai dengan ideologi komunis perlahan juga dijadikan alat. Klub-klub di sana, pada saat itu, seperti juga olahraga lainnya dikuasai oleh negara.

Dalam bukunya, Spy Who Play for Spartak Jim Riordan, pemain Inggris pertama yang bermain di Uni Sovyet menggambarkan bagaimana komunisme membekap sepak bola.

Dalam catatannya, dia bercerita bagaimana sebuah klub yang didukung oleh negara, demi mencapai posisi tertinggi melakukan teror terhadap klub lainnya. Mereka tak segan mengirimkan pemain lawannya ke kamp tawanan.



***

DI NEGARA-negara Blok Timur, masing-masing negara memiliki secret service. Rata-rata, organisasi ini tergolong galak. Mereka memantau, memeras, bahkan tak segan-segan membunuh orang Polandia yang berusaha menentang rejim Komunis.

Bukan hanya di Polandia, tentu saja, dinas rahasia seperti ini. Jerman Timur memiliki Stasi. Mereka menyebar di berbagai negara. Termasuk juga Inggris.

Uniknya, para agen mereka di Inggris, mereka kerap bersembunyi dari kejaran spion lawannya pada saat pertandingan sepak bola. Di stadion mereka bisa bebas berbaur dengan puluhan ribu penonton. Mereka pun tak bisa diawasi.

Stasi terkenal ganas. Mereka tak ragu menghilangkan nyawa pemain yang melawan rezim. Termasuk mereka yang berusaha membelot.

Lutz Eigendorf salah satu korban Stasi. Pemain nasional Jerman Timur mencoba untuk membelot ke Jerman Barat. Namun pihak klub Dynamo yang dikuasai Stasi, tempat Lutz bermain berusaha menahannya untuk pergi. Caranya, luar biasa. Pertama kali, mereka memisahkan Lutz dengan istrinya. Mereka pun bercerai.

Akhirnya, pada 1983, Lutz berhasil pergi ke Eintracht.  Namun bukan berarti dia mereguk kebebasan. Justru sebaliknya, informan Stasi di Jerman Barat, terus membuntutinya. Pada 5 Maret, hidup Lutz berakhir.

Dalam sebuah tabrakan, Lutz tewas. Setelah Jerman Timur runtuh, barulah ketahuan bahwa tabrakan itu adalah hasil rekayasa dari Stasi. Pada 10 Februari 2010, bekas mata-mata Jerman Timur, mengakui pembunuhan itu dilakukan atas perintah Stasi.

***

APAKAH pekerjaan sejenis itukah yang pernah dilakukan oleh Jan Tomaszewski, semasa menjadi agen seperti yang dirilis dalam harian Newsweek?

Tomaszewski pun muncul di stasiun televisi TVP.  Dalam usianya yang 63 tahun, penampilannya tidak lagi gondrong. Geraknya tentu sudah tak selincah di  bawah gawang. Jan saat ini berperawakan gemuk dan rambut yang menipis.

Setelah bekerja sebagai komentator sepak bola di televisi selama bertahun-tahun, Tomaszewski terpilih sebagai wakil dari daerah konstituen Lodz. Dia bergabung dalam Partai Hukum dan Keadilan yang sangat anti komunis. Partai ini juga beraliansi dengan kalangan konservatif Inggris di Brussels.

Di depan kamera dia membantah semua tuduhan itu. “Saya tidak pernah berurusan dengan polisi rahasia komunis. Saya hanya warga negara biasa,” Tomaszewski pada TVP.

Masih perlu pembuktian soal ini, tentu saja. Bagaimana pun, Jan Tomaszewski tidak bisa mengelak dengan isi dokumen yang tidak sembarangan dirilis ke media. Apalagi bila terbukti otentik. Sudah jelas dia tidak bisa mengelak.

Namun bagaimana dokumen bocor itu juga jadi pertanyaan. Jangan-jangan ada hubungannya dengan usaha yang dilakukan Jan. Saat ini dia memang tengah aktif menelusuri dugaan korupsi yang terjadi dalam pembangunan fasilitas dalam rangka Piala Eropa tahun depan. Korupsi itu diduga terjadi dalam pembangunan stadion dan jalan bebas hambatan. Nilainya? Miliaran dolar.


Sumber tulisan:

Hiddenmysteri DailyMail , PhilosophyFootballWikipedia, TVP  

Powered by Blogger.